Kamis, 18 April 2019

ERA DIMANA FUNGSI & KENYAMANAN HARUS BERKOMPROMI DENGAN DESAIN (SELERA PASAR)

Sebagai penyuka roda dua, Albanjaree sudah cukup lama memperhatikan desain-desain motor; dari motor-motor jadul tahun 80an sampai motor-motor futuristik zaman sekarang. Secara garis besar, motor-motor tahun lama memiliki  desain yang lebih simple, tidak berbelit-belit namun lebih menjurus pada fungsi; dan untuk segi kenyamanan, lebih bersahabat dan diprioritaskan menurut hemat Albanjaree.


Jok Honda GL100 th. 80an
Sebagai contoh, Albanjaree masih ingat betapa motor-motor dulu didesain dengan jok yang tebal dan empuk, ditambah dengan profil jok yang membuatnya tidak licin saat diduduki. Sangat bertolak belakang dengan jok-jok motor zaman sekarang, keras, tipis, licin, nungging, you name it lah… Demikian juga dengan spatbor motor dulu yang lebih fungsional dan berfungsi baik menahan cipratan air saat hujan.


Motor-motor sekarang memiliki desain yang mau tak mau harus mengikuti selera pasar dan di tengah kompetitifnya pasar, pabrikan harus kreatif menciptakan desain yang disukai konsumen. Sayangnya, demi mengikuti selera pasar, Albanjaree sering melihat bagaimana kenyamanan dan fungsi harus dikorbankan demi desain. Ini sepertinya sedikit memaksakan - tapi apa daya? Konsumen sekarang sepertinya tidak terlalu pusing dengan kenyamanan dan fungsi, “yang penting keren”, mungkin itu slogannya.

Behel belakang sebagai pegangan yang raib entah kemana...
Bagi konsumen seperti Albanjaree yang sudah tidak muda lagi (tapi belum tua lho ya…) kenyamanan dan fungsi tetap menjadi prioritas jika disandingkan dengan desain. Apa karena selera desain Albanjaree yang kurang militan dan faktor usia yang sudah tidak relevan dengan kekinian? Yang jelas Albanjaree akan berpikir banyak sekali untuk meminang motor sport ataupun bebek sport zaman sekarang yang memiliki postur nungging dengan jok seupil dan pembonceng terlihat seperti berada di atas tanduk… belum lagi fender belakang atau spatbor yang seperti hiasan mungil dan tidak berfungsi maksimal menahan cipratan air atau kotoran saat becek karena hujan… 

Hanya ilustrasi, bukan untuk dicontoh :D
Albanjaree sering melihat pembonceng yang karena posisi duduknya terlalu tinggi dibanding rider di depannya, kelihatan seperti tidak nyaman dan was-was, mungkin takut kepalanya kepentok… 😊 Buruknya lagi, handle/behel belakang yang biasa menjadi pegangan untuk kenyamanan dan keamanan pembonceng, seringkali “disembunyikan” di balik “desain” dan sulit dijangkau. Begitu juga dengan kasus spatbor belakang yang cuma hiasan, Albanjaree sering melihat rider yang kerepotan saat hujan karena kotoran nyiprat ke punggung dan akhirnya harus pasang semacam spatbor tambahan seperti plastik atau semacamnya, bukankah itu konyol dan justru merusak penampilan motor? Sepertinya, jika menyangkut pilihan desain, kenyamanan dan keamanan akhirnya harus berkompromi di zaman milenial ini.

Terakhir kali Albanjaree sempat menyaksikan bagaimana motor sport baru yang mengadopsi desain behel belakang model klasik yang nonjol keluar menjadi bahan bully-an oleh warganet. Weleh-weleh, kejam nian selera pasar ya… 😄

Satu pertanyaan dari Albanjaree: Akankah desain, fungsi dan kenyamanan dapat menyatu kembali di desain motor produksi massal di masa datang? Wallahu a’lamu… namun Albanjaree berharap seperti itu. Siklus setiap 20 tahun sekali mungkin akan kembali membawa era ini, dan kehadiran motor-motor baru model retro menjadi pertanda baik…

Sampai di sini, pandangan subyektif Albanjaree ini mungkin belum membahas topik secara menyeluruh, silakan komen jika ingin menambahkan atau punya pandangan lain. It’s nice to share

Salam satu aspal… 😎


Rabu, 27 Februari 2019

Oli X-Ten XT-40 di Honda New MegaPro FI - Part II

Hai sobat dumay semua, pada postingan sebelumnya Albanjaree berjanji akan update kinerja Oli X-Ten XT-40 setelah trip meter mencapai kisaran angka 2500 – 3000, berikut akan Albanjaree paparkan beberapa poin yang dirasakan setelah penggunaan mencapai 2470 km.

Usia oli ini sendiri sudah mendekati 2 bulan dan sebagai informasi, di atas 2.000 km, oli yang biasa Albanjaree gunakan sebelumnya sudah mulai menunjukkan penurunan kinerja yang ditandai dengan suara mesin yang agak kasar, tarikan yang kurang responsif, pergantian persneling yang tidak mulus serta suhu mesin yang terasa sedikit lebih panas saat riding.

Saat ini trip meter Megan Pox sudah menunjukkan angka 2.470,6 km sejak ganti oli terakhir, dan sejauh ini yang Albanjaree rasakan adalah pergantian persneling yang mulai tidak semulus ketika oli baru diganti - namun tidak mengganggu dalam artian tidak pernah slip. Mungkin ini wajar, sedikit banyaknya pasti akan ada penurunan kinerja, namanya juga oli pasti ada batas maksimal daya tahannya. Meski demikian, akselerasi tetap joss, mungkin ada sedikit penurunan namun tidak signifikan.

Trip meter telah mengalami 2x auto reset per 1000 km
















Untuk panas mesin Albanjaree tidak merasakan perbedaan signifikan, artinya mesin masih relatif adem dan tidak terasa panas berlebihan, ini yang membuat Albanjaree suka sama nie oli. Biasanya di atas 2000 km, oli sebelumnya akan membuat panas mesin terasa di kaki.

Kesimpulannya, Albanjaree kasih point 8 out of 10 untuk Oli X-Ten XT-40 ini, dengan plus minus sebagai berikut:

Pros:
·         Ketahanan oli baik
·         Harga bersahabat
·         Menambah akselerasi
·         Mesin adem
·         Persneling lembut
·         Engine break responsif

Cons:
·         Suara mesin sedikit kasar di mileage awal (0 – 200 km)

Begitulah coretan jujur Albanjaree mengenai oli X-Ten yang baru saja dicoba di Megan Pox ini, semoga coretan ini berguna bagi sobat-sobat yang ingin mencoba ataupun sedang mencari-cari oli yang cocok untuk tunggangannya. Hasil tes yang Albanjaree paparkan di blog ini sepenuhnya subyektif sesuai pengalaman Albanjaree. Bisa jadi penggunaan pada motor lain akan memberikan efek berbeda.

Akhir kata, salam ruhuy rahayu dan semoga kita selalu diberi kesehatan jiwa dan raga. Amin YRA.

😎😎😎

Jumat, 04 Januari 2019

Oli X-Ten XT-40 di Honda New MegaPro FI - Koq Enak Ya?

Halo sobat semua...

Seminggu yang lalu tepatnya di penghujung tahun 2018 Albanjaree memutuskan untuk mengganti oli dengan oli baru yang baru saja Albanjaree kepoin. Sebelumnya Albanjaree sudah search info-info yang mengulas oli baru ini dan seperti biasa, ulasan negatif dan positif selalu ada - keputusan akhir tentunya ada di tangan konsumen.

Mungkin karena kurang informasi atau Albanjaree yg sedikit kuper, Oli X-Ten ini ternyata sudah ada sejak lama dan rutinitas Albanjaree untuk isi nitrogen di Planet Ban (selanjutnya PB) yang notabene menjual oli ini juga tidak mampu memberi pencerahan akan keberadaannya. Seharusnya produsen lebih aktif mensosialisasikan produknya dalam bentuk iklan di media massa atau pun media sosial.

Galau memutuskan pilihan, oli regular yang selalu digunakan Megan Pox selama lebih dari 2 tahun kebetulan tak tersedia di toko langganan. Akhirnya Albanjaree memutuskan untuk mencoba oli baru yang dijual di PB saja dan kebetulan jarak PB hanya beberapa ratus meter dari toko langganan.

Singkat cerita Megan pun terparkir di area bengkel PB walaupun sebetulnya masih sedikit ragu. Karena ungkapan “you’ll never know if you never try” dan juga kekentalan oli X-Ten XT-40 Sport ternyata sama dengan oli yang biasa Megan Pox gunakan yaitu 10W-40, akhirnya Albanjaree yakin dan langsung minta ganti oli kepada petugas PB yang agak jutek, mungkin kecapean karena sudah malam dan mengira Albanjaree hanya ingin tambah nitrogen gratisan.😄

Oh ya… ternyata cara ganti oli di PB juga berbeda, tidak seperti biasa dengan membuka baut oli di bawah mesin dan membiarkan oli mengucur habis. PB memiliki alat hisap khusus dengan selang yang dimasukkan melalui lubang pengisian oli dan tidak butuh lama, oli lama berhasil terkuras. Positifnya, baut tap oli bawah menjadi lebih awet dan tidak mudah dol atau slek karena sering dibuka.

Sebelum mengulas oli baru, ada baiknya Albanjaree mengulas sedikit pengalaman memakai oli lama dengan plus minusnya:

Pros:
·        Suara mesin halus
·        Pergantian persneling mudah

Cons:
·        Panas mesin sangat terasa di kemacetan
·        Setelah digunakan di atas 2000 km performa mulai menurun

Setelah selesai penggantian oli, Albanjaree tidak sabar untuk mencoba rasa baru dari oli X-Ten yang mengandung ester ini sambil tidak lupa mengeset trip meter kembali ke angka nol agar pergantian berikutnya terkontrol.

Kesan pertama (0 – 150 km pertama) saat menggunakan oli ini adalah:
  • Suara mesin sedikit lebih kasar dari oli sebelumnya       
  • Pergantian persneling terasa halus
  • Harga yang tidak lebih mahal dari oli sebelumnya 😊

Di mileage 200 km setelah ganti oli, suara mesin yang sedikit kasar mulai berkurang dan satu hal yang Albanjaree perhatikan adalah kenaikan RPM yang lebih cepat dari biasanya dan ini cukup signifikan sob… Ini berkontribusi pada akselerasi Megan yang menjadi lebih baik.

Saat trip meter menunjukkan angka > 300 km, berikut poin-poin positif yang Albanjaree rasakan:
  • Kemampuan akselerasi meningkat
  • Engine break responsif dan halus
  • Panas mesin lebih minim dibanding oli sebelumnya
  • Persneling enak dan kopling pun lebih lembut

Untuk poin-poin negatifnya, sejauh ini Albanjaree belum bisa paparkan selain mesin terasa lebih kasar di mileage awal 0 – 150 km. Albanjaree akan update coretan ini seiring berjalannya mileage menuju 2500 – 3000km di mana saat itu kualitas oli ini sudah akan teruji.

Sampai di sini ulasan Albanjaree mengenai oli yang cukup terjangkau dengan kandungan ester base di mana biasanya dijual 2x lebih mahal dari oli sintetis yang sebelumnya digunakan Megan Pox.

Semoga berguna bagi sobat-sobat yang mampir.

Selamat Tahun Baru 2019, #2019gantioli 😊

Senin, 01 Oktober 2018

REVIEW HONDA ALL NEW BEAT FI FUSION MAGENTA BLACK (CBS – ISS)

Tak terasa sudah setahun si “Pinky” menjadi piaraan sy dan setahun adalah waktu yg lama; sy merasa sudah cukup mengenal si Pinky dan siap memberikan ulasan “neutral” apa adanya sesuai opini sy pribadi.

Si Pinky ini adalah kendaraan harian istri sy untuk ke pasar dan kadang jemput anak, tugas sy hanya “miara”; ganti oli, service, isi bensin, kontrol angin dan hal-hal lain yg tidak akan pernah dilakukan/dimengerti oleh sang Kapolsek (sebutan lain untuk istri sy). 😊


si Pinky (All New BeAT FI Fusion Magenta Black)
Saat ini mileage si Pinky sudah mencapai 9500 Km sekian dan 85% jarak tempuh tersebut adalah dari penggunaan sy saat tidak menggunakan si Megan Pox. Maklum si Megan sudah mencapai mileage lebih dari 50.000 Km dan saatnya istirahat sejenak… 

Hal pertama yg ingin sy ulas perihal si Pinky adalah handling. Untuk handling, rasanya All New Beat ini tidak jauh berbeda dengan generasi sebelumnya (Beat FI); ringan, lincah dan responsif. Bobotnya yg hanya 92 kg memberikan kontribusi utama untuk kelincahan serta responsifitasnya. Si Pinky sangat lincah diajak bermanuver di kemacetan Jakarta, selap-selip di antara mobil, dan akselerasinya pun lumayan agresif jika mengingat cc-nya yg hanya 110 cc dan matic pula…

Dari semua poin plus di atas, ada satu keluhan yg sering sy rasakan setelah riding agak jauh bersama si Pinky: Pegal-pegal pada pinggang, dan menurut hemat sy, ini dikarenakan joknya yg tipis dan kurang empuk. Setelah sy pasang cover jok yg banyak dijual di pinggir jalan, alhamdulillah pegal-pegal pada pinggang jauh berkurang.

Untuk ergonomi, bagi sy pribadi secara umum All New Beat ini terasa kekecilan. Tinggi sy yg 170 cm membuat kaki serasa mentok ke dashboard, posisi tangan pun agak nanggung; setangnya terasa kurang tinggi. Tak heran kadang sy merasa seperti sedang duduk di atas dingklik. 😀

Mungkin All New Beat ini menyasar segment pengendara dengan tinggi rata-rata 160cm. Pernah suatu kali sy tanya Kapolsek bagaimana rasanya naik Beat, jawabannya singkat saja, “enak”. Maklum tinggi badan Kapolsek cuma 155cm. 

Dari segi desain; sy akui All New Beat ini seperti melompat dari desain-dessain Beat sebelumnya. Lekuk-lekuk tajamnya memberi kesan desain yg futuristic yang berpadu seirama dengan garis-garis lengkung yg memberi kesan elegan. Speedometer-nya juga lumayan cakep dengan panel display digital yang nyempil cantik pada speedo, ini menambah kesan sporty dan modern. Sy akui, nama All New Beat sangat tepat karena dari segi desain, si Pinky telah mendapatkan update yg lumayan fresh, velg depan-belakang pun sy perhatikan memiliki desain yg berbeda dari generasi pendahulunya.


Terakhir sy ingin membahas konsumsi BBM. Suatu waktu (saat si Pinky berusia 7 bulan), sy pernah iseng mengetes konsumsi BBM si Pinky dengan metode full-to-full untuk mendapatkan jarak tempuh rata-rata 1 liter Pertalite. Dan hasilnya cukup membuat senang; 60,1 Km untuk 1 liter pertalite dan angka tersebut sudah sesuai klaim pabrikan yg berkisar di angka 59-63 Km/L BBM. Sayang pengetesan ini tidak disertai dokumentasi karena tidak ada rencana untuk dipublikasikan di blog. 

Rasanya kurang afdol jika sy memberikan rincian tes konsumsi BBM tanpa disertai foto aktual odometer dengan angka Km yg telah ditempuh serta jumlah BBM terpakai yg menjadi acuan penghitungan. Untuk itu, sekali lagi sy lakukan pengetesan dengan detail sebagai berikut:

Hari 1:
- Sy isi BBM Beat hingga full-tank di mileage 9425,5 km dan membutuhkan 3.05 L Pertalite.



















Hari 2:
Sejak full-tank di Hari 1 si Pinky sy ajak menjelajah dengan riding mode dan beban bervariasi; dari santai 40km/j - 70km/jam, boncengan dengan full-team (kapolsek dan 2 krucil) dan sendirian, namun mayoritas beban adalah berboncengan full-team.


Hari 3:
- Saat display BBM Beat menunjukkan 1 bar sy akhirnya merapat ke SPBU Pertamina di mana odometer Beat telah menunjukkan angka 9599,1. Ini berarti si Pinky telah menempuh jarak 173,6 Km sejak full-tank pertama.















- Ketika tangki BBM Beat telah luber sama seperti saat pengisian di Hari 1, sy cek unit display SPBU menunjukkan angka 3,02 yg berarti 3,02 L Pertalite telah digunakan oleh si Pinky dalam kurun waktu 2 hari tersebut.


















Sekarang mari kita cek hasilnya dengan membagi 173,6 (jarak yang telah ditempuh) dengan jumlah BBM yg terpakai sejak full-tank pertama yaitu 3.02 L.

Dan hasil rata-ratanya adalah: dengan 1 liter Pertalite yang dikonsumsinya si Pinky dapat menempuh jarak 57,5 Km. Kali ini agak lebih boros dari klaim pabrikan namun rasanya wajar karena mayoritas beban lebih dari 100 Kg saat pengetesan dan menurut hemat sy masih lumayan iritlah.

Last but not the least… secara keseluruhan sy cukup puas dengan performa si Pinky, tidak pernah menyulitkan atau memberi masalah yg berarti selama setahun ini. Part pabrikan pun masih awet belum ada yg minta ganti. Yg selalu sy perhatikan adalah oli mesin dan oli gardan agar tidak lupa mengganti secara periodik serta menjaga kestandaran area mesin untuk kenyamanan dan durabilitas.

Semoga bermanfaat dan salam sejahtera… 😎

Kamis, 28 Juni 2018

CARA MUDAH KELUAR DARI GROUP WHATSAPP TANPA MENINGGALKAN GROUP (LEFT GROUP)


Zaman sekarang jika ada yg belum tau apa itu Whatsapp atau lebih populernya disebut WA, kemungkinan HP-nya bukan versi android. Rata-rata pengguna Android saat ini memasang WA di HP untuk kemudahan komunikasi tanpa harus mengirim SMS atau menelpon yang notabene menggunakan pulsa regular (lebih mahal). Dengan WA, kita hanya butuh paket data internet dan kita bisa chatting, nelpon dan bahkan video call dengan biaya yg murah.

WA juga memanjakan penggunanya dengan fitur Group di mana pengguna dapat membuat grup dengan tema tertentu dan memasukkan anggota grup hanya dengan nomer HP yg sudah terdaftar di WA. Banyak sekali manfaat Grup ini karena kita dapat berinteraksi satu sama lain di lingkungan grup. Namun adakalanya masalah muncul ketika kita sudah “kebanyakan” grup dan kinerja HP kita terganggu oleh banyaknya media kiriman grup yg tersimpan di HP. Biasanya ini terjadi pada HP dengan internal memori terbatas di mana system operasi Android terganggu karena kurangnya kapasitas memori.

Nah, di sini sy ingin menshare pengalaman sy ketika HP sy mulai sering "hang" dan restart sendiri dan ingin keluar dari beberapa grup yg tidak produktif alias “nyampah” namun tidak ingin menyakiti perasaan admin atau teman-teman yg ditinggalkan dengan meninggalkan status ‘left group”. Pernah suatu kali sy left group dan di-add lagi ke dalam group dan begitu seterusnya… 😁

Untuk keluar grup tanpa harus left group sebenarnya cukup mudah, kita dapat menggunakan fitur change number (rubah nomer) dan beberapa tahap lainnya yg akan sy share di sini.
Pertama-tama, kita harus punya nomer lain yg blm didaftarkan di Whatsapp dan masih aktif, minim bisa menerima sms verifikasi.

Selanjutnya, buka aplikasi WA di HP Anda dan pilih setting seperti gambar di bawah:




















Kemudian pilih Account (Akun):



















Lalu pilih Change number (Ubah nomer):



















Pilih Next (Selanjutnya):



















Masukkan dahulu nomer kita yg sekarang terdaftar di WA pada bagian atas, dan nomer baru di bagian bawah kemudian tekan Done (Selesai):




















Maka WA akan otomatis memverifikasi nomer baru Anda dengan mengirim SMS:
Masukkan kode verifikasi secara manual jika tidak terdeteksi otomatis karena nomer baru terpasang di HP lain dan voila...! Kini WA Anda telah berganti nomer dan Anda akan meninggalkan status berganti nomer di seluruh Grup WA. Sampai di sini, tahapnya belum selesai karena Anda masih ada dalam Grup-Grup WA dan masih menerima semua pesan grup.

Untuk langkah selanjutnya, Anda harus meng-uninstall aplikasi WA dari HP Anda:



















...dan setelah proses uninstall selesai, pasang kembali aplikasi WA melalui google play store dan daftarkan nomer lama Anda kembali (bukan nomer baru yg WA-nya baru saja dihapus), setelah selesai maka Anda akan memiliki WA baru tanpa ada grup lagi. Untuk kembali masuk dalam Grup yg tidak ingin Anda tinggalkan, silakan hubungi Admin atau anggota masing-masing Grup agar Anda ditambahkan kembali ke dalam Grup... 😄

Lumayan ribet juga sih, tapi inilah satu-satunya cara agar kita bisa keluar dari Grup-grup yang suka nyampah dan kita tidak diperbolehkan keluar oleh Adminnya... 😋

Sy belum tahu bagaimana nasib nomer WA baru kita di Grup-grup yg kita tinggalkan, tapi menurut pendapat sy, suatu saat akun WA kita akan dihapus otomatis oleh sistem karena tidak ada aktivitas dalam kurun waktu tertentu, dan mengenai status kita di grup saat akun tsb dihapus oleh sistem Wallahu A'lam, time will tell.... Semoga bermanfaat...

Salam sukses gans... 💪










Senin, 05 Maret 2018

TERUNGKAP: IDENTITAS MISTERIUS JACK “THE RIPPER” SESUNGGUHNYA

Jack the Ripper atau Jack si Pencabik merupakan sosok pembunuh misterius yang hingga saat ini masih samar identitasnya. Siapa Jack “the Ripper” sesungguhnya? Berbagai teori mengenai dirinya - atau identitasnya telah menjadi bahan perbincangan selama beberapa dekade.

Berdasarkan uji DNA pada sebuah syal sutra, seorang penulis mengklaim telah memecahkan salah satu misteri pembunuhan terbesar dan berhasil membuka kedok identitas pembunuh berantai paling terkenal sepanjang masa - Jack “the Ripper”.

Pada pagi buta 30 September 1888, di Mitre Square London, polisi menemukan mayat seorang wanita yang telah dimutilasi; diidentifikasi sebagai Catherine Eddowes. Tenggorokannya menganga dan organ ginjal sebelah kirinya lenyap. Eddowes merupakan wanita malam kedua yang terbunuh dalam waktu 1 jam di bagian kota tersebut. Anehnya, pembantaian ini ditandai dengan tanda tangan si pembunuh sadis, yang kemudian selama berminggu-minggu terus menebar teror di kawasan East End - pinggiran London.

Disebutkan bahwa sesaat setelah polisi Scotland Yard selesai melakukan olah TKP untuk korban pembunuhan keempat yang juga seorang wanita malam, Sersan Amos Simpson yang bertugas saat itu dilaporkan mengajukan permintaan aneh untuk membawa pulang sehelai syal bernoda darah; berwarna biru dan coklat tua dengan pola bunga aster di kedua ujungnya (ditemukan di TKP) untuk diberikan kepada istrinya yang penjahit. Atasannya mengizinkan namun bisa diduga, pemberian ini tidak diterima dengan baik oleh istrinya.

Istri Simpson ketakutan dan menyimpan kain sutera sepanjang 2 meter, yang ditemukan di samping korban keempat Jack “the Ripper” dalam sebuah kotak. Syal ini tidak pernah dipakai maupun dicuci seiring dengan mengendornya pencarian atas salah satu pembunuh berantai paling terkenal di dunia. Pelaku yang bertanggung jawab atas pembunuhan setidaknya lima pelacur London dalam selang waktu Agustus hingga November 1888 ini tidak pernah terungkap, dan pihak berwenang secara resmi menutup berkas penyelidikan di tahun 1892.

SIAPAKAH JACK “THE RIPPER” SEBENARNYA?
Meski tidak pernah terungkap, pembunuhan berantai ini tidak pernah sirna dari ingatan publik. Sekelompok orang yang dikenal sebagai "Ripperolog" mengembangkan berbagai teori mereka sendiri selama beberapa dekade, dan beberapa tersangka pelaku yang pernah diduga termasuk ayah Winston Churchill, penulis "Alice's Adventures in Wonderland" Lewis Carroll, dan bahkan Pangeran Albert Victor, cucu Ratu Victoria; garis keturunan kedua dalam tahta kerajaan Inggris.

Sebagian bahkan berspekulasi bahwa Jack “the Ripper” sesungguhnya adalah Jill “the Ripper”, dan salah satu tersangka pelakunya termasuk seorang wanita bernama Mary Pearcey, yang dieksekusi tahun 1890 setelah membantai anak dan istri kekasih gelapnya menggunakan pisau ukir; cara yang sama seperti dilakukan oleh pembunuh berantai terkenal itu.

Syal era Victoria yang diambil oleh Polisi Scotland Yard Amos Simpson akhirnya diwariskan dari generasi ke generasi keturunan polisi tersebut hingga dilelang pada tahun 2007 dan dibeli oleh seseorang bernama Russell Edwards, seorang pengusaha Inggris yang mengaku dirinya sebagai "detektif partikelir" dan tertarik akan kasus yang sangat misterius ini. Meski kain syal sutera tersebut telah compang-camping dan menua, dalam helai-helai suteranya yang belum pernah dicuci masih tersimpan bukti DNA yang sangat berharga untuk mengungkap kasus ini.

APAKAH ANALISA DNA BERHASIL MENGUNGKAP PELAKU?
Saat itu, setelah lebih dari 3 tahun analisis ilmiah, Russell menyatakan bahwa identitas sebenarnya dari Jack “the Ripper” telah terungkap dan terjalin dalam syal kuno compang-camping yang berusia lebih dari 126 tahun, dia menunjuk seorang imigran Polandia bernama Aaron Kosminski sebagai pembunuh berantai dalam bukunya "Naming Jack “the Ripper”. "

Edwards melibatkan ahli genetika forensik Dr. Jari Louhelainen dari Universitas Liverpool John Moores di tahun 2011 untuk mempelajari syal tersebut menggunakan metode analisis yang hanya mungkin dilakukan dalam dekade terakhir. Louhelainen mengidentifikasi bercak-bercak gelap pada syal sebagai noda darah "yang konsisten dengan cipratan darah arteri yang disebabkan oleh sayatan." Dia juga menemukan bukti adanya bagian tubuh yang terpisah, konsisten dengan pemotongan ginjal, serta adanya cairan sperma.

Louhelainen menemukan bahwa DNA mitokondria yang diambil dari syal tersebut sesuai dengan sampel yang diambil dari Karen Miller, keturunan langsung dari Eddowes dan juga seorang wanita keturunan langsung dari saudara perempuan Kosminski, Matilda, yang bersedia memberikan swab DNA mitokondria yang diambil dari dalam mulutnya.

Polisi yang menangani kasus ini pada saat pembunuhan tidak terkejut melihat nama Kosminski dikaitkan dengan kejahatan tersebut. Di saat tragedi pembunuhan berantai tersebut, Kosminski termasuk salah satu di antara beberapa tersangka utama. Lahir di Klodawa, Polandia tahun 1865, Kosminski merupakan anak bungsu dari tujuh bersaudara, Setelah kematian ayahnya, keluarga ini melarikan diri dari aksi genosida yang dilancarkan oleh penguasa Rusia di Polandia saat itu dan bermigrasi ke daerah Whitechapel di London tahun 1881.

Disebutkan bahwa Kominski adalah seorang penata rambut yang menderita skizofrenia paranoid akut dan pernah dirawat di rumah sakit jiwa pada tahun 1891 setelah menyerang adiknya dengan pisau. Di pertengahan tahun 1890-an, seorang saksi menyebutkan bahwa dirinya melihat ketika Kominski menyerang salah satu korban namun menolak untuk bersaksi. Karena tidak memiliki bukti kuat, polisi tidak pernah menangkap Kosminski atas kejahatan tersebut. Dia menghabiskan sisa hidupnya dalam pengasingan hingga kematiannya tahun 1919 karena penyakit kusta.

Edwards telah lama berteori bahwa syal tersebut terlalu baik kualitasnya untuk dimiliki oleh seorang pelacur jalanan London dan merupakan milik Jack ““the Ripper””, bukan Eddowes. Dengan menggunakan resonansi magnetik nuklir, ilmuwan lain dari Universitas John Moores, Dr. Fyaz Ismail yakin bahwa kain syal tersebut telah ada sebelum pembunuhan tahun 1888 terjadi dan kemungkinan dibuat di St. Petersburg Rusia, sebuah wilayah di Polandia di mana Kosminski lahir yang berada di bawah kendali Rusia, tidak mengherankan jika barang-barang buatan Rusia diperdagangkan di sana.

"Telah 14 tahun kami menyeledikinya dan kami akhirnya berhasil memecahkan misteri siapa Jack “the Ripper” sebenarnya," kata Edwards kepada surat kabar London Independent. "Mereka yang apatis dan ingin mengabadikan mitos Jack “the Ripper” boleh meragukannya. Semua sudah terungkap - kami telah membuka kedoknya. "

“RIPPEROLOG” MASIH MERAGUKAN
Banyak Ripperolog (pengamat Jack The Ripper) belum begitu yakin akan teori di atas. Laporan tersebut banyak menimbulkan sikap skeptis, beberapa di antaranya menyebutkan bahwa analisis laboratorium untuk kasus ini harus dipublikasikan dalam sebuah jurnal ilmiah dan telah ditinjau oleh rekan ilmuwan. Juga kenyataan bahwa Louhelainen hanya mampu menguji DNA mitokondria yang diturunkan dari ibu ke anak. Ini memberikan jauh lebih sedikit identifikasi unik daripada DNA nuklir karena banyak orang memiliki pola DNA mitokondria yang sama.

Kritikus lainnya bahkan menolak anggapan bahwa Simpson pernah berada di TKP di malam pembunuhan Eddowes dan menyatakan bahwa syal itu mungkin telah terkontaminasi selama beberapa dekade karena pernah dipergunakan oleh banyak anggota keluarga Eddowes.

Selain itu, ini bukan pertama kalinya bukti DNA digunakan untuk memecahkan kasus ini. Novelis kriminal Amerika Patricia Cornwell menegaskan bahwa sampel DNA yang juga ditemukan dalam surat ejekan yang dikirim oleh Jack “the Ripper” ke Scotland Yard sesuai dengan DNA pelukis post-impresionis Walter Sickert.

Sebuah penelitian di tahun 2006 oleh ilmuwan Australia Ian Findlay dilakukan dengan mengekstrak DNA air liur yang menempel pada surat-surat tersebut dan menyebutkan bahwa kemungkinan pengirimnya adalah seorang wanita. Begitu pun dengan berita terbaru, kecil kemungkinan bahwa debat mengenai identitas siapa Jack “the Ripper” sebenarnya akan mereda.

Disadur dan diadaptasi oleh Albanjaree dari: history.com

Kamis, 15 Februari 2018

KISAH MIRIS DI BALIK TRAGEDI KAPSUL ANTARIKSA SOYUZ 1 RUSIA

Jasad kosmonot Vladimir Komarov dan pejabat militer Rusia
Kisah tragis ini menceritakan tentang seorang kosmonot Rusia yang terperangkap dalam kapsul antariksa Soyuz 1 dan mengetahui bahwa dirinya tidak akan selamat kembali ke bumi. Kegagalan misi ini merupakan akibat dari kekuatan politik tangan besi yang saat itu menguasai Uni Soviet. Demi prestise politik dan atas nama kemajuan teknologi, proyek ini berakhir tragis dan mengorbankan salah satu pilot terbaik yang pernah dimiliki Uni Soviet saat itu, Vladimir Komarov.

Kapsul antariksa Soyuz 1 dibangun secara tidak layak dan kehabisan bahan bakar saat dalam misi kembali ke bumi; parasutnya tidak berfungsi dengan baik dan kosmonot Vladimir Komarov bisa dibilang sedang jatuh dalam kecepatan tinggi menuju bumi. Jasadnya kemudian ditemukan lebur menjadi arang akibat dahsyatnya benturan dan suhu panas saat memasuki lapisan atmosfer bumi.

Di momen-momen terakhir sebelum Soyuz 1 memasuki atmosfer bumi, pos-pos pemantau Amerika di Turki dapat mendengar tangis kemarahan Komarov yang putus asa, "memaki orang-orang yang telah “memaksanya” berada dalam kapsul antariksa yang mematikan tersebut." Dalam percakapan terakhirnya melalui telepon dengan Alexei Kosygin (pejabat tinggi Uni Soviet saat itu) — si pejabat menangis; mengetahui bahwa sang kosmonot akan tewas saat memasuki atmosfer bumi sebelum membentur tanah.

Kisah tragis kematian kosmonot Rusia di tahun 1967 ini telah diabadikan dalam sebuah buku yang berjudul Starman, ditulis oleh Jamie Doran bersama Piers Bizony. Kedua penulis ini merangkai cerita berdasarkan penuturan yang disampaikan oleh seorang agen KGB, Venyamin Ivanovich Russayev serta dari berita-berita sebelumnya yang ditulis oleh Yaroslav Golovanov di media Rusia Pravda. Versi kisah ini – jika sungguh terjadi – benar-benar mengejutkan.

Buku Starman sendiri bercerita tentang persahabatan antara dua kosmonot, Vladimir Komarov dan pahlawan Soviet Yuri Gagarin, manusia pertama yang berhasil mencapai angkasa luar. Kedua pria ini dikenal sangat dekat satu sama lain. Mereka bersosialisasi, berburu hingga menikmati minuman khas Rusia bersama.

Yuri Gagarin (kiri) sedang berburu bersama Komarov. Sumber: RIA Novosti /Photo Researchers, Inc
Pada tahun 1967, kedua pria ini ditugaskan untuk sebuah misi mengorbit Bumi, keduanya tahu bahwa kapsul luar angkasa yang akan mereka awaki tidak layak untuk diterbangkan. Komarov bahkan memberitahu rekan-rekannya bahwa kemungkinan dirinya akan tewas dalam misi tersebut. Namun Komarov tidak bersedia mundur dari misi, karena jika demikian, sahabatnya Gagarin akan menggantikan posisinya dan Komarov tidak ingin Gagarin menjadi korban.

Cerita ini dimulai sekitar tahun 1967, ketika Leonid Brezhnev, pemimpin otoriter Uni Soviet saat itu memutuskan untuk mempertontonkan sebuah misi spektakuler; pertemuan jarak dekat antara dua pesawat antariksa Soviet di luar angkasa. Ini merupakan ajang pamer kekuatan bagi sebuah negara super power terhadap seterunya saat itu Amerika Serikat.

Rencana ini melibatkan peluncuran kapsul antariksa Soyuz 1 yang diawaki oleh Komarov, kemudian hari berikutnya, kapsul antariksa kedua akan diluncurkan bersama dua kosmonot lainnya. Di ruang angkasa, kedua kapsul ini rencananya akan bertemu dan bergandengan dalam jarak dekat. Kemudian Komarov akan “terbang” dari satu kapsul ke kapsul lainnya untuk bertukar tempat dengan rekannya sesama kosmonot, lalu kembali ke bumi menggunakan kapsul antariksa kedua. Brezhnev berharap ini akan menjadi simbol kemenangan Soviet di hari peringatan 50 tahun revolusi Komunis. Dengan tegas Brezhnev menyatakan bahwa dia ingin misi ini berhasil dan menjadi kenyataan.

Sayangnya misi ambisius ini tidak dipersiapkan dengan matang. Masalah muncul saat Gagarin, pahlawan antariksa Soviet, manusia pertama yang berhasil mencapai angkasa luar, serta beberapa teknisi senior Soviet menemukan 203 masalah struktural saat melakukan inspeksi pada kapsul Soyuz 1 — masalah yang cukup serius yang dapat menyebabkan kapsul ini berbahaya untuk dikendalikan di ruang angkasa. Gagarin menyarankan agar misi ditunda untuk sementara waktu.

Pertanyaannya adalah: Siapa yang berani memberitahu Brezhnev tentang hal ini? Gagarin kemudian menulis memo 10 halaman dan memberikannya kepada agen KGB sahabatnya; Venyamin Russayev untuk diteruskan kepada Brezhnev. Sayangnya, tak seorang pun berani menyampaikannya kepada pemimpin Soviet saat itu. Mereka yang mengetahui memo tersebut, termasuk Russayev sendiri menerima sangsi jabatan, sebagian dipecat bahkan ada yang dibuang ke Siberia.

Dengan waktu yang kurang dari satu bulan sebelum peluncuran, Komarov sadar bahwa penundaan bukanlah sebuah opsi. Dia menemui Russayev, agen KGB yang baru saja mendapat sangsi penurunan jabatan dan mengatakan, "Aku tidak akan selamat kembali ke bumi". Russayev kemudian bertanya kepada Komarov, "kenapa kau tidak menolaknya?" jawaban Komarov saat itu cukup membuat haru: "Jika aku tidak bersedia ditugaskan dalam misi ini, mereka akan menugaskan pilot cadangan". Dan itu adalah Yuri Gagarin. Vladimir Komarov tidak akan membiarkan hal tersebut terjadi pada sahabatnya. "Yura pastinya", ucap Komarov, "dan dia akan tewas menggantikan posisiku, kita harus melindunginya". Komarov kemudian menangis.

Jurnalis Rusia Yaroslav Golovanov melaporkan bahwa di hari peluncuran tanggal 23 April 1967, Gagarin muncul di situs peluncuran dan bersikeras memakai baju khusus antariksa, namun tak seorang pun mengizinkannya terbang. Golovanov menyebut perilaku ini sebagai "tingkah tak terduga," namun beberapa pengamat beranggapan bahwa saat itu Gagarin mencoba menggantikan posisi pilot Soyuz 1 untuk menyelamatkan nyawa sahabatnya. Namun kapsul antariksa Soyuz akhirnya meninggalkan bumi dengan diawaki oleh Komarov.

Ketika Soyuz 1 mulai mengorbit bumi, beberapa kerusakan mulai terdeteksi. Antena tidak terbuka sepenuhnya, daya dorong tidak berfungsi normal dan terjadi kesulitan dalam navigasi, akhirnya peluncuran di hari berikutnya dibatalkan. Hal terburuk adalah bahwa peluang Komarov untuk kembali ke bumi dengan selamat menjadi sangat tipis.

Saat itu intelijen AS juga memantau perkembangan peluncuran Soyuz 1. Agen Keamanan AS memiliki sebuah fasilitas pemantau di Pangkalan Angkatan Udara AS dekat Istanbul. Laporan waktu itu menyatakan bahwa para pengamat AS mengetahui bahwa ada yang tidak beres dengan misi Soyuz 1, namun mereka tidak bisa menjelaskannya. Dalam hal ini, seorang analis NSA yang disebut sebagai Perry Fellwock dalam buku Starman, mengaku mendengar Komarov berbicara dengan petugas kendali bumi; pasrah mengetahui bahwa dirinya akan tewas dalam misi. Fellwock juga menyebutkan bahwa seorang pejabat Soviet Alexei Kosygin menghubungi Komarov melalui saluran telepon video dan menyampaikan bahwa dia akan gugur sebagai pahlawan. Istri Komarov juga dilibatkan dalam pembicaraan telepon di mana Komarov menyampaikan pesan terakhir untuk anak-anaknya. Kosygin menangis sedih saat itu.

Saat kapsul antariksa Soyuz 1 mulai menukik dan parasutnya gagal terbuka, buku ini menceritakan bagaimana intelijen Amerika "mendengar tangis kemarahan Komarov sesaat sebelum kematiannya."

Disadur oleh penulis dari: http://io9.gizmodo.com/5791437/what-really-happened-to-cosmonaut-vladimir-komarov-who-died-crashing-to-earth-in-1967

* Pernah tayang di UC News per tanggal 13/09/2017 pukul 16:42